Friday, October 26, 2018

Hoax Dalam Pandangan Islam: Sejarah dan Perkembangannya


OPINI: Hoax Dalam Pandangan Islam: Sejarah dan Perkembangannya

Fitria Kusumaningsih, M Pd. (Dosen Universitas Tridinanti Palembang)

TRIBUNSUMSEL.COM-Seiring berkembangnya kemajuan teknologi, juga berdampak terhadap informasi yang beredar.


Dulu informasi bisa didapatkan hanya melalui koran atau media cetak yang kebenarannya bisa dipercaya.

Namun kini informasi beredar melalui berbagai media, melalui pesan singkat, media sosial, dan lain sebagainya.

Sayangnya informasi yang dibagikan tersebut terkadang tidak diketahui secara pasti kebenarannya apakah itu memang kabar yang memiliki dasar atau hanya dibuat-buat alias hoax yang kebenarannya sangat diragukan.

Di tengah arus informasi di mana "kecepatan" menjadi yang utama, informasi menjadi mudah dibagikan tanpa melalui proses verifikasi.

Apalagi ditambah dengan makin dekatnya pemilihan umum.

Berbagai isu menggulir tanpa diketahu kebenarannya.
Di sini, tipuan yang berarti berita bohong atau fitnah, akan ditinjau dalam perspektif agama, khususnya islam.

Apalagi, agama memang kerap menjadi objek hoax.

Sebab, sensitifitas memang merupakan "isu paling seksi" untuk dijadikan legitimasi dan penggerak bagi arus hoax.

Terlebih di tengah euforia keberagamaan yang sangat tinggi di tingkat "kulit" saja, tanpa diimbangi oleh kedalaman dan keilmuan yang memadai.


Dalam sejarah Islam, berita bohong, fitnah, atau hoax itu catatan sebagai penyebab pertama guncangan besar bagi tatanan keislaman yang telah dibangun oleh Nabi Muhammad.

Itu terjadi saat terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan, yang kemudian disebut sebagai al-fitnah al-kubra (fitnah besar).

Saat itu, umat Islam saling menebar berita bohong tentang pembunuhan Khalifah Usman untuk kepentingan politik jadi terjadi perpecahan pertama dalam sejarah Islam, yang bermuara pada peperangan antara Ali dan Muawiyah serta lahirnya sekte-sekte dalam Islam.

Karena itu, tak aneh jika Sayyidina Ali buru-buru menasihati umat Islam agar jangan terjebak dalam hal ini lantaran terprovokasi oleh berita bohong.

Perbedaan dalam teologi Islam awal yang terjadi atas dasar berita bohong penting melahirkan perpecahan, konflik, dan saling bunuh di tubuh umat Islam.

Dengan fitnah, perbedaan tak lagi jadi "rahmat" terbit sabda Nabi, peluncur "bencana".

Hoax menyulap perbedaan (ikhtilaf) menjadi perpecahan (iftiraq)

Lantaran bersumber dari ego, berita bohong dalam Islam menyeruak ke salah satu simpul terdalam agama: hadis.

Sejak 41 Hijriyah, berita bohong atas nama nabi dan disebarkan untuk kepentingan-kepentingan kuasa.

Ia menganiaya mazhab, ulama, pandangan, dan segala sesuatu yang menjadi benteng bagi ego rezim.


Sekadar gambarannya: dari 600 ribu hadis yang menampung Imam Bukhari, hanya 2.761 hadis yang dipilihnya, dari 300 ribu yang butuh Imam Muslim, hanya 4000 yang dipilihnya, dari 500 ribu yang diterima Imam Abu Dawud hanya 4800 yang dipilihnya, dan dari sekitar satu juta hadis yang menampung Imam Ahmad bin Hanbal hanya 30 ribu hadis yang dipilihnya. Lepas, sejak awal, Nabi telah bersabda,"Barang siapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka haruslah dia diaisi tempat duduknya di neraka."



Sebagian pembuat hadis palsu dijuluki "pembohong zuhud" . Artinya, mereka sebenarnya seorang yang taat beribadah. Namun saat digugat, mereka mengatakan telah berbohong bukan terhadap Nabi ('ala Nabi) , pelantikan untuk Nabi (li Nabi) dengan asas untuk kebaikan Islam. Ini sama seperti fenomena dalam beberapa tahun terakhir di kalangan umat Islam Indonesia, ketika mereka secara sadar menganiaya sesama muslim atau umat non muslim dengan berita-berita bohong atas dasar imajinasi dirinya "pembela Allah dan rasul-Nya".

Kesucian agama dari berita bohong sangat penting, utama, dan mendasar.

Untuk awal, Al-Quran dalam QS. Al-Hijr: 9 paksa apa yang difirmankan-Nya benar-benar dari-Nya dan akan terus Dia jaga sampai akhir masa.

Nabi diutus sebagai manusia suci (ma'shum) untuk meneguhkan kesucian agama yang dibawanya dari tuduhan atau prasangka berita bohong.


Tuhan sangat keras terhadap pembuat dan penyebar berita bohong: melaknat, menyebut tak beriman, dan garansi di neraka. Sebab, berita bohong dalam keberagamaan bukan satu-satunya kesucian agama batal, tapi juga paksa menerimanya meski bertentangan dengan akal.
Walhasil, tutur Ibnu Rusyd, "Jika kamu ingin orang bodoh, bungkuslah segala hal dengan agama."

Oleh karena itu, pasca-Nabi, para sahabat, tabi'in, dan ahli hadis membentuk sebuah ilmu musthalah hadits yang di dalamnya diatur agar sebuah hadis terhindar dari hoax atau kebohongan, penyelewengan yang disengaja maupun tak disengaja.

Di dalamnya ada ilmu sanad (periwayatan) dan matan (konten), di mana setiap hadis harus berasal dari periwayat yang terjaga kepercayaannya (begitu bahkan melakukan sesuatu yang tidak etis dalam Islam) dan kontennya juga dicek secara kebahasaan, dll apakah dia memang dari Nabi dari segi kandungan dan salah satu yang utama harus sesuai dengan nilai Al-Qur'an.


Saat ini juga kerap kita rasakan, salah satu celah hoax adalah saat sebuah berita bergandengan kuasa, khusus politik.

Karena memang sejak masa awal-awal Islam, pasca-Nabi, teks agama yang suci (khusus hadis) kerap dipolitisasi dengan ucapan menjadi hoax atau dibuat perkataan yang disandarkan pada Nabi untuk kepentingan penguasa.

Salah satu contoh contoh Muqatil bin Sulaiman al-Bakhi adalah pembohong dan pemalsu hadis di mana Imam Nasa'i memasukkannya sebagai seorang pembohong.

Ia pernah mengatakan terang-terangan kepada Khalifah al-Mahdi dari Bani Abbas: "Bila kamu suka, akan aku buatkan hadis untuk (keagungan) Abbas" .

Namun Sang Khalifah menjawab: "Aku tidak menghendakinya!" .

Sifat "Kebenaran" dan "Kebatilan" pada posisi seperti udara dan minyak. Beda dan tak bisa bercampur.

Namun, dalam hal QS. Al-Anfaal: 73, hoax bisa mengaburkan kebenaran dan kebatilan yang akan membawa manusia pada kerusakan besar.

Misalnya, rangkaian periwayatan hadis akan runtuh jika di tengahnya adalah periwayat yang bermasalah karena menjadi taka da jaminan untuk kesucian hadis tersebut.

Atau, buat permainan teka teki silang, jika salah satu jawaban anda bohong, maka akan menimbulkan rentetan kesalahan yang menuju pada kerusakan besar tentunya.

Diuntung pula, tipuan bisa rusak struktur mental seseorang karena rentetan logika sebab-akibat akan rancu jika disusupi tipuan.


Maka, mari bersama menjaga agama dan bangsa ini dari tipuan. Putar Kembali HOAX!


No comments:

Post a Comment