OPINI:
Hoax Dalam Pandangan Islam: Sejarah dan Perkembangannya
Fitria
Kusumaningsih, M Pd. (Dosen Universitas Tridinanti Palembang)
TRIBUNSUMSEL.COM-Seiring
berkembangnya kemajuan teknologi, juga berdampak terhadap informasi yang
beredar.
Dulu
informasi bisa didapatkan hanya melalui koran atau media cetak yang
kebenarannya bisa dipercaya.
Namun kini
informasi beredar melalui berbagai media, melalui pesan singkat, media sosial,
dan lain sebagainya.
Sayangnya
informasi yang dibagikan tersebut terkadang tidak diketahui secara pasti
kebenarannya apakah itu memang kabar yang memiliki dasar atau hanya dibuat-buat
alias hoax yang kebenarannya sangat diragukan.
Di tengah
arus informasi di mana "kecepatan" menjadi yang utama, informasi
menjadi mudah dibagikan tanpa melalui proses verifikasi.
Apalagi
ditambah dengan makin dekatnya pemilihan umum.
Berbagai isu
menggulir tanpa diketahu kebenarannya.
Di sini,
tipuan yang berarti berita bohong atau fitnah, akan ditinjau dalam perspektif
agama, khususnya islam.
Apalagi, agama memang kerap menjadi objek
hoax.
Sebab, sensitifitas memang merupakan
"isu paling seksi" untuk dijadikan legitimasi dan penggerak bagi arus
hoax.
Terlebih di tengah euforia keberagamaan
yang sangat tinggi di tingkat "kulit" saja, tanpa diimbangi oleh
kedalaman dan keilmuan yang memadai.
Dalam sejarah Islam, berita bohong,
fitnah, atau hoax itu catatan sebagai penyebab pertama guncangan besar bagi
tatanan keislaman yang telah dibangun oleh Nabi Muhammad.
Itu terjadi saat terbunuhnya Khalifah
Usman bin Affan, yang kemudian disebut sebagai al-fitnah al-kubra (fitnah
besar).
Saat itu, umat Islam saling menebar berita
bohong tentang pembunuhan Khalifah Usman untuk kepentingan politik jadi terjadi
perpecahan pertama dalam sejarah Islam, yang bermuara pada peperangan antara
Ali dan Muawiyah serta lahirnya sekte-sekte dalam Islam.
Karena itu, tak aneh jika Sayyidina Ali
buru-buru menasihati umat Islam agar jangan terjebak dalam hal ini lantaran
terprovokasi oleh berita bohong.
Perbedaan dalam teologi Islam awal yang
terjadi atas dasar berita bohong penting melahirkan perpecahan, konflik, dan
saling bunuh di tubuh umat Islam.
Dengan fitnah, perbedaan tak lagi jadi
"rahmat" terbit sabda Nabi, peluncur "bencana".
Hoax menyulap perbedaan (ikhtilaf) menjadi
perpecahan (iftiraq)
Lantaran bersumber dari ego, berita bohong
dalam Islam menyeruak ke salah satu simpul terdalam agama: hadis.
Sejak 41 Hijriyah, berita bohong atas nama
nabi dan disebarkan untuk kepentingan-kepentingan kuasa.
Ia menganiaya mazhab, ulama, pandangan,
dan segala sesuatu yang menjadi benteng bagi ego rezim.
Sekadar gambarannya: dari 600 ribu hadis
yang menampung Imam Bukhari, hanya 2.761 hadis yang dipilihnya, dari 300 ribu
yang butuh Imam Muslim, hanya 4000 yang dipilihnya, dari 500 ribu yang diterima
Imam Abu Dawud hanya 4800 yang dipilihnya, dan dari sekitar satu juta hadis
yang menampung Imam Ahmad bin Hanbal hanya 30 ribu hadis yang dipilihnya.
Lepas, sejak awal, Nabi telah bersabda,"Barang siapa yang berdusta atas
namaku secara sengaja, maka haruslah dia diaisi tempat duduknya di
neraka."
Sebagian pembuat hadis palsu dijuluki
"pembohong zuhud" . Artinya, mereka sebenarnya seorang yang taat
beribadah. Namun saat digugat, mereka mengatakan telah berbohong bukan terhadap
Nabi ('ala Nabi) , pelantikan untuk Nabi (li Nabi) dengan asas untuk kebaikan
Islam. Ini sama seperti fenomena dalam beberapa tahun terakhir di kalangan umat
Islam Indonesia, ketika mereka secara sadar menganiaya sesama muslim atau umat
non muslim dengan berita-berita bohong atas dasar imajinasi dirinya
"pembela Allah dan rasul-Nya".
Kesucian agama dari berita bohong sangat
penting, utama, dan mendasar.
Untuk awal, Al-Quran dalam QS. Al-Hijr: 9
paksa apa yang difirmankan-Nya benar-benar dari-Nya dan akan terus Dia jaga
sampai akhir masa.
Nabi diutus sebagai manusia suci (ma'shum)
untuk meneguhkan kesucian agama yang dibawanya dari tuduhan atau prasangka
berita bohong.
Tuhan sangat keras terhadap pembuat dan
penyebar berita bohong: melaknat, menyebut tak beriman, dan garansi di neraka.
Sebab, berita bohong dalam keberagamaan bukan satu-satunya kesucian agama
batal, tapi juga paksa menerimanya meski bertentangan dengan akal.
Walhasil, tutur Ibnu Rusyd, "Jika
kamu ingin orang bodoh, bungkuslah segala hal dengan agama."
Oleh karena itu, pasca-Nabi, para sahabat,
tabi'in, dan ahli hadis membentuk sebuah ilmu musthalah hadits yang di dalamnya
diatur agar sebuah hadis terhindar dari hoax atau kebohongan, penyelewengan
yang disengaja maupun tak disengaja.
Di dalamnya ada ilmu sanad (periwayatan)
dan matan (konten), di mana setiap hadis harus berasal dari periwayat yang
terjaga kepercayaannya (begitu bahkan melakukan sesuatu yang tidak etis dalam
Islam) dan kontennya juga dicek secara kebahasaan, dll apakah dia memang dari
Nabi dari segi kandungan dan salah satu yang utama harus sesuai dengan nilai
Al-Qur'an.
Saat ini juga kerap kita rasakan, salah
satu celah hoax adalah saat sebuah berita bergandengan kuasa, khusus politik.
Karena memang sejak masa awal-awal Islam,
pasca-Nabi, teks agama yang suci (khusus hadis) kerap dipolitisasi dengan
ucapan menjadi hoax atau dibuat perkataan yang disandarkan pada Nabi untuk
kepentingan penguasa.
Salah satu contoh contoh Muqatil bin
Sulaiman al-Bakhi adalah pembohong dan pemalsu hadis di mana Imam Nasa'i
memasukkannya sebagai seorang pembohong.
Ia pernah mengatakan terang-terangan
kepada Khalifah al-Mahdi dari Bani Abbas: "Bila kamu suka, akan aku
buatkan hadis untuk (keagungan) Abbas" .
Namun Sang Khalifah menjawab: "Aku
tidak menghendakinya!" .
Sifat "Kebenaran" dan
"Kebatilan" pada posisi seperti udara dan minyak. Beda dan tak bisa
bercampur.
Namun, dalam hal QS. Al-Anfaal: 73, hoax
bisa mengaburkan kebenaran dan kebatilan yang akan membawa manusia pada
kerusakan besar.
Misalnya, rangkaian periwayatan hadis akan
runtuh jika di tengahnya adalah periwayat yang bermasalah karena menjadi taka
da jaminan untuk kesucian hadis tersebut.
Atau, buat permainan teka teki silang,
jika salah satu jawaban anda bohong, maka akan menimbulkan rentetan kesalahan
yang menuju pada kerusakan besar tentunya.
Diuntung pula, tipuan bisa rusak struktur
mental seseorang karena rentetan logika sebab-akibat akan rancu jika disusupi
tipuan.
Maka, mari bersama menjaga agama dan
bangsa ini dari tipuan. Putar Kembali HOAX!
No comments:
Post a Comment